Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,78% ke level 4.904,29 pada Selasa (3/11/2026) — level terendah dalam enam tahun terakhir. Indeks yang sempat dibuka menguat dan menyentuh 5.143 berbalik tajam, menembus level psikologis 5.000 sebelum pukul 11.00 WIB dan terus tertekan hingga penutupan.
Berdasarkan data Stockbit yang dikutip CNBC Indonesia, IHSG turun 192,54 poin ke 4.904,29 pada penutupan Selasa sore. Data RTI Infokom yang dikutip Bisnis.com mencatat penutupan di 4.904,28 dengan rentang harian 4.895–5.143. Sebanyak 624 saham melemah, hanya 57 saham menguat dan 37 stagnan, dengan kapitalisasi pasar tercatat sekitar Rp8.674 triliun.
Pelemahan ini menjadi yang terdalam sejak BEI mengeluarkan 81 saham berkonsentrasi tinggi (HSC) dari perhitungan indeks pada 2 November, dan terjadi sehari setelah IHSG sempat menguat 0,79% ke 5.096,83.
Kronologi Sehari: Dari Menguat ke Ambrol di Bawah 5.000
Pergerakan IHSG pada 3 November berlangsung volatil sejak pembukaan:
- Pembukaan menguat. IHSG dibuka naik 0,58% atau 29,7 poin ke 5.126,53 dari penutupan sebelumnya 5.096,83, menurut Kompas.com. Indeks bahkan sempat menyentuh 5.143,58 sesaat setelah perdagangan dibuka.
- Pukul 09.12 WIB berbalik merah. Bisnis.com mencatat IHSG melemah 0,48% ke 5.071,14 dengan 214 saham menguat, 253 melemah, dan 189 stagnan.
- Pukul 10.55 WIB tembus 5.000. Berdasarkan RTI Business, indeks turun 1,81% atau 92,43 poin ke 5.004,39, sempat menyentuh terendah 4.998,82.
- Akhir sesi I anjlok 2,62%. IHSG parkir di 4.963,06 dengan hanya 94 saham menguat berbanding 542 melemah.
- Sesi II dan penutupan. Pada tengah hari indeks di 4.942,84 (-3,02%), lalu bertambah sekitar 38 poin pelemahan hingga bertahan di kisaran 4.900 menjelang tutup. Penutupan akhir di 4.904,29 (-3,78%) menurut CNBC Indonesia, atau 4.904,28 menurut Bisnis.com.
Pola ini menandai pembalikan tajam: dari penguatan pembukaan menjadi koreksi hampir 4% dalam satu hari perdagangan.
Semua Sektor Merah, Saham Big Cap Jadi Pemberat
Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, seluruh sektor mengalami tekanan pada 3 November, dengan penurunan terbesar pada sektor basic materials -5,69%, real estat -5,16%, energi -4,29%, consumer cyclicals -3,13%, dan finansial -3,09%.
Beberapa saham pemberat utama IHSG hari ini adalah emiten berkapitalisasi besar: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Saham penekan koreksi lainnya yang disebut CNBC Indonesia antara lain PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).
Bisnis.com menambahkan, sehari sebelumnya saham BBRI, BUMI, dan TPIA sempat menguat, namun pada penutupan 3 November mayoritas saham termasuk BBCA, BBRI, dan BUMI kompak berakhir di zona merah.
Volume dan Nilai Transaksi
Total volume perdagangan pada 3 November mencapai 226,69 juta lot dengan nilai transaksi Rp10,22 triliun, menurut data Stockbit yang dikutip CNBC Indonesia. Jumlah saham melemah yang jauh lebih dominan dibanding yang menguat menunjukkan tekanan jual merata, bukan hanya pada saham tertentu.
Kapitalisasi pasar IHSG tercatat sekitar Rp8.674 triliun pada penutupan, turun dari Rp8.950 triliun pada penutupan 2 November.
4 Sentimen yang Membayangi Pasar Hari Ini
CNBC Indonesia merangkum empat sentimen utama yang membayangi pasar keuangan Indonesia pada 3 November:
1. Pemilu Sela AS 2026: Taruhan Besar bagi Trump
Pemilu sela Amerika Serikat digelar Selasa (3/11/2026) waktu setempat. Seluruh 435 kursi DPR AS dan 35 dari 100 kursi Senat diperebutkan. Partai Demokrat berupaya merebut kendali Kongres di tengah merosotnya popularitas Presiden Donald Trump dan tekanan biaya hidup. Menurut University of Florida Election Lab, lebih dari 57 juta warga AS telah memberikan suara lebih awal hingga Senin (2/11), melampaui 46 juta pada pemilu sela 2022.
2. Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 7%
Harga minyak mentah Brent turun 7,63% ke US$104,77 per barel pada Senin (2/11), sementara WTI merosot 7,36% ke US$96,46 per barel. Pemicunya adalah harapan berakhirnya perang AS-Israel melawan Iran setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan akan menyelesaikan konflik lewat dialog dan Presiden Trump menyebut kesepakatan damai mungkin tercapai. Bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, penurunan ini berpotensi meringankan tekanan APBN dan inflasi.
3. Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)
KSSK dijadwalkan menggelar rapat dan konferensi pers pada 3 November. Pasar menanti kajian sistem keuangan kuartal III serta kebijakan baru terkait kejatuhan pasar modal dan pelemahan rupiah, termasuk dampak aturan baru pasar modal.
4. PMI Manufaktur China Melandai tapi Tetap Ekspansi
PMI Manufaktur China versi RatingDog turun tipis ke 52,0 pada Oktober 2026 dari 52,1 pada September, namun masih di atas perkiraan pasar 51,6 dan menandai ekspansi 11 bulan berturut-turut. Produksi tumbuh tercepat dalam enam bulan ditopang kenaikan pesanan baru dan peluncuran produk baru, meski permintaan ekspor melambat.
Konteks: BEI Baru Depak 81 Saham HSC
Sehari sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Concentration Stock/HSC) dari perhitungan IHSG per Senin, 2 November 2026. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan penyesuaian ini tidak diproyeksikan mengguncang pasar secara ekstrem karena bobot saham HSC yang dikeluarkan langsung dialokasikan proporsional ke emiten lain di dalam IHSG.
Meski demikian, pengumuman tersebut menjadi latar volatilitas pekan ini. Pada penutupan 2 November IHSG masih menguat 0,79% ke 5.096,83 ditopang saham BBRI, BUMI, dan TPIA, sebelum berbalik anjlok pada 3 November.
Apa Artinya untuk Investor?
Pelemahan hampir 4% dalam sehari dan tembusnya level psikologis 5.000 membuat IHSG berada di level terendah sejak Oktober 2020, menurut Viva.co.id. Indikator teknikal jangka pendek menunjukkan tekanan jual luas — 624 saham melemah berbanding hanya 57 menguat — sementara sektor siklikal dan finansial memimpin penurunan.
Investor ritel umumnya memantau tiga hal setelah koreksi sedalam ini: hasil rapat KSSK pada sore ini, arah pemilu sela AS yang memengaruhi sentimen global, serta pergerakan harga minyak dan nilai tukar rupiah yang pada pagi hari tercatat melemah ke Rp18.156 per dolar AS menurut Kompas.com.
Disclaimer: Artikel ini menyajikan data pergerakan indeks dan sentimen pasar untuk tujuan informasi. Bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.
Artikel ini memperbarui laporan sesi I pagi tadi dengan data penutupan resmi sore ini.
