Berita Terpercaya untuk Indonesia dan Dunia
BerandaIndonesiaInternasionalPolitikBisnisTeknologiOpini
Warta Nusantara

Warta Nusantara — Premium digital news publication covering Indonesian and international affairs, politics, business, technology, culture, and opinion.

Berita

  • Indonesia
  • Internasional
  • Politik
  • Bisnis

Lainnya

  • Teknologi
  • Opini
  • Tentang Kami
  • Kontak

Legal

  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Warta Nusantara. Hak cipta dilindungi.

Diterbitkan untuk publik Indonesia dan internasional.

  1. Beranda
  2. Indonesia
  3. 1.800 Polisi Naik KRL Gerebek Kampung Bahari: 26 Ditangkap, Mesin Cetak Ekstasi Disita
Indonesia

1.800 Polisi Naik KRL Gerebek Kampung Bahari: 26 Ditangkap, Mesin Cetak Ekstasi Disita

Operasi gabungan 1.816 personel Polda Metro, Bareskrim, Brimob, dan BNN menggerebek Kampung Bahari Tanjung Priok via KRL Minggu 1 November 2026 — 26–27 orang ditangkap dan mesin pencetak ekstasi ditemukan di lapak sepanjang rel.

Adi SaputraTerbit 2 November 2026
KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota berhenti di stasiun — ilustrasi moda yang dipakai polisi saat gerebek Kampung Bahari
KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota berhenti di stasiun — ilustrasi moda yang dipakai polisi saat gerebek Kampung Bahari

Foto: Dave Wiggers / Wikimedia Commons (CC0)

#Polda Metro Jaya#Kampung Bahari#Narkoba#Krl Commuter Line
Pengungkapan Afiliasi: Artikel ini mungkin mengandung tautan afiliasi. Jika Anda membeli melalui tautan ini, kami mungkin menerima komisi tanpa biaya tambahan bagi Anda.

Minggu pagi 1 November 2026, warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, menyaksikan pemandangan yang tak biasa: ratusan polisi bersenjata lengkap turun dari KRL Commuter Line dan langsung menyisir lapak-lapak di sepanjang rel Kampung Bahari dan Muara Bahari. Itu adalah puncak operasi gabungan 1.816 personel yang digelar sejak pukul 05.30 WIB — penggerebekan narkoba terbesar di kawasan itu dalam beberapa bulan terakhir.

Dari penyisiran serentak itu, Polda Metro Jaya mengamankan 26 hingga 27 orang dan menyita ratusan gram sabu, ganja, ribuan pil ekstasi, hingga satu unit mesin pencetak ekstasi.

Operasi 1.816 personel sejak subuh

Penggerebekan melibatkan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Utara, Brimob Polri, Bareskrim Polri, dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol. Adhe Hariadi mengatakan penyisiran dimulai sekitar pukul 05.30 WIB di dua kawasan sekaligus: Kampung Bahari dan Kampung Muara Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Tim gabungan dari Direktorat Narkoba Polda Metro, BNN, Brimob, Polres Metro Jakarta Utara," kata Adhe, dikutip MetroTVNews via ANTARA, Minggu (1/11/2026).

Jumlah personel yang dikerahkan mencapai 1.816 orang — angka yang dikonfirmasi Katadata (Desy Setyowati, 1 Nov 09.32 WIB) maupun keterangan Dirresnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso di lokasi. DetikNews mencatat pembulatan 1.800 personel dalam laporan terpisah dengan substansi yang sama.

Petugas bergerak dari berbagai sisi secara serempak. Sebagian masuk lewat jalur darat dengan sepeda motor dan kendaraan taktis, sebagian lain melalui jalur rel.

Kenapa polisi naik KRL?

Jawaban taktisnya sederhana: jalur rel adalah akses langsung ke sarang yang ditargetkan.

"Iya. Yang jelas kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi, ya. Ada dari berbagai arah, ya. Oleh karena itu kita lakukan serempak," ujar Bismo Teguh Prakoso, dikutip detikNews.

Moda KRL dipilih karena rel Commuter Line memang membelah kawasan Kampung Bahari — banyak lapak transaksi narkoba berdiri di bantaran rel. Dengan menumpang KRL, pasukan bisa tiba tanpa menarik perhatian dan langsung menyebar ke lapak-lapak di sepanjang jalur.

Keterangan serupa disampaikan Kapolres Adhe Hariadi kepada ANTARA: petugas naik KRL dari Stasiun Tanjung Priok menuju Kampung Bahari dan Muara Bahari karena KRL dapat mengakses jalur yang langsung mengarah ke lokasi yang diduga menjadi tempat peredaran narkoba. Setibanya di lokasi, petugas turun dan menyisir lapak-lapak di sepanjang rel serta permukiman warga.

CNN Indonesia (video 1 Nov 05:52 WIB) melaporkan hal yang sama: polisi sengaja memasuki kampung lewat KRL agar pergerakannya tidak diketahui lebih dulu oleh jaringan di dalam.

Respons KAI Commuter: perjalanan reguler tetap jalan

KAI Commuter membenarkan bahwa perjalanan yang membawa personel adalah kereta luar biasa (KLB) relasi Jakarta Kota–Tanjung Priok yang dijalankan sekitar pukul 06.25 WIB atas koordinasi kepolisian.

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menjelaskan perjalanan tersebut tidak berdampak pada perjalanan reguler Commuter Line menuju Tanjung Priok, dikutip Liputan6 dan detikNews.

Namun KAI Commuter juga mengakui tiga perjalanan reguler Jakarta Kota–Tanjung Priok sempat terlambat 4–19 menit akibat kerumunan warga di sekitar rel saat operasi berlangsung. Kereta KLB membawa personel berhenti di kawasan Kampung Bahari, lalu petugas turun membentuk barisan penyisiran.

Berapa yang ditangkap? Rentang 26–27 orang

Angka penangkapan pada 1 November 2026 dilaporkan sedikit berbeda antar media — semuanya merujuk pada sumber kepolisian yang sama di lokasi.

  • 26 orang — detikNews (Adrial Akbar, 1 Nov 06:16 WIB) dan Liputan6 (Rifqy Alief Abiyya, 1 Nov 09:21 WIB) mengutip Dirresnarkoba Bismo Teguh Prakoso: 26 diamankan dan dibawa ke Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya.

  • 27 orang — Katadata (Desy Setyowati, 1 Nov 09:32 WIB) dan MetroTVNews/ANTARA (1 Nov 07:24 WIB) melaporkan 27 orang, dengan Katadata merinci tahap awal empat orang diamankan (satu membawa pil psikotropika, tiga diduga pengguna) sebelum penyisiran lanjutan.

  • Judul di beberapa agregator sempat menyebut 29 orang, tetapi teks laporan yang sama kembali menyebut 26–27 di dalam tubuh berita.

Untuk menghindari simpang siur, angka yang aman ditulis adalah 26–27 orang ditangkap pada 1 November 2026, dengan mayoritas laporan menyebut 26. Semua yang diamankan dibawa ke Ditresnarkoba Polda Metro Jaya untuk pendalaman peran — apakah bandar, pengedar, atau pengguna — seperti disampaikan Bismo: "Nanti kita akan lakukan pendalaman."

Barang bukti: dari sabu hingga mesin cetak ekstasi

Daftar barang bukti yang konsisten disebut di seluruh sumber:

  • Sabu-sabu ratusan gram

  • Ganja

  • Ribuan butir pil ekstasi

  • Satu unit mesin pencetak ekstasi — temuan paling menonjol karena mengindikasikan aktivitas produksi, bukan sekadar peredaran

  • Alat isap atau bong dan alat pengemas narkotika

  • Senjata tajam dan senjata api

  • Sejumlah uang tunai yang diduga hasil transaksi — ditemukan bersamaan dengan barang bukti ganja

"Kemudian ada mesin, mesin pencetak ekstasi, ya. Kemudian ada sajam dan bong, ya, peralatan-peralatan yang digunakan untuk penyalahgunaan narkoba," ujar Bismo, dikutip Liputan6.

Kepolisian juga menyebut uang tunai "hasil jadi satu sama barang bukti ganjanya," yang memperkuat dugaan uang itu berasal dari penjualan langsung di lapak.

Sempat ada perlawanan

Petugas menyebut sempat mendapat perlawanan dari pihak yang diduga bagian dari jaringan.

"Perlawanan itu sebagai wujud pengalihan perhatian dari zona yang menjadi target operasi kita, ya. Tapi kita tidak teralihkan terhadap fokus dari target operasi kita," kata Bismo, dikutip detikNews.

Menurut Katadata dan MetroTVNews, perlawanan tersebut tidak mengganggu jalannya operasi. Petugas tetap menyisir tiap lapak di sepanjang rel dan permukiman.

Apa selanjutnya: lapak dibongkar, bandar diburu

Bismo menegaskan operasi tidak berhenti di penangkapan 1 November. Dua langkah lanjutan yang sudah diumumkan:

1. Pembongkaran lapak liar di bantaran rel yang selama ini dipakai sebagai lokasi transaksi. Polisi menyebut lapak-lapak itu masih aktif dipakai, bahkan saat penggerebekan masih ditemukan transaksi di salah satu lapak pinggir rel.
2. Pengejaran bandar dan operasi lanjutan di titik lain. "Masih (ada transaksi), ya. Oleh karena itu kita akan terus lakukan operasi ini, ya, di berbagai tempat dan juga pengejaran terhadap bandarnya," kata Bismo, dikutip Liputan6 dan detikNews.

Kampung Bahari memang bukan nama baru dalam peta peredaran narkoba Jakarta Utara — kawasan padat di bantaran rel Tanjung Priok itu telah beberapa kali digerebek, termasuk operasi BNN pada Agustus 2026 yang juga sempat mengganggu perjalanan KRL. Operasi 1 November dengan skala 1.800-an personel dan modus masuk via KRL menjadi sinyal bahwa pola peredaran yang memanfaatkan celah di bantaran rel kini menjadi sasaran pembongkaran fisik, bukan sekadar penangkapan.

Bagi warga Tanjung Priok dan pengguna Commuter Line Tanjung Priok, pesan KAI Commuter tetap sama: layanan reguler tidak terganggu di luar keterlambatan singkat akibat kerumunan saat operasi. Kepolisian meminta warga melaporkan lapak mencurigakan di bantaran rel agar rantai peredaran dapat diputus lebih cepat.

Sumber

  • KAI Buka Suara Soal Polisi Naik KRL Gerebek Kampung Bahari
  • 1.816 Polisi dan Anggota BNN Gerebek Kampung Bahari, Naik KRL
  • Polisi Naik KRL Saat Serempak Gerebek Bandar Narkoba Kampung Bahari Jakut
  • VIDEO: Gerebek Kampung Narkoba Dengan Menaiki KRL
  • Ratusan Polisi Turun dari KRL saat Gerebek Kampung Bahari
Bagikan𝕏FBWA
Adi Saputracontributor

Berita Terkait

IndonesiaTruk Molen Rem Blong Tabrak Halte di Bekasi, 6 Tewas di Jalan Cut Mutia2 Nov 2026IndonesiaKabut Asap Mereda, Penerbangan Ketapang–Pontianak Kembali Normal Sejak 31 Oktober2 Nov 2026IndonesiaApel Akbar Solidaritas Palestina di Monas Hari Ini: Jadwal, Target 10 Ribu Massa, dan Rekayasa Lalin1 Nov 2026IndonesiaAnak Krakatau Erupsi 7 Kali Semalam, Status Siaga: Amankah Warga Banten dan Lampung?1 Nov 2026