Danantara Buka 40+ Proyek Teknologi: dari Chip AI Sampai Data Center Kelas 1 GW
Jakarta — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memaparkan peta jalan teknologi nasional yang jauh lebih ambisius dari sekadar membangun infrastruktur digital. Lembaga itu menyiapkan lebih dari 40 proyek strategis yang tersebar di enam klaster industri prioritas, mulai dari pengembangan chip kecerdasan artifisial (AI) hingga pusat data berkapasitas raksasa.
Peta jalan itu disampaikan Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). "Danantara memiliki lebih dari 40 proyek yang tersebar di enam industri," ujar Sigit, seperti dikutip CNBC Indonesia.
Berhenti Jadi Penyewa Lahan
Sigit menyoroti kondisi industri pusat data di Indonesia yang selama ini dinilai masih sebatas bisnis sewa lahan dan penyedia infrastruktur dasar. Menurutnya, model itu membuat nilai tambah terbesar justru dinikmati pihak lain di luar negeri.
"Ke depannya, melalui Danantara, kami tidak hanya akan memiliki infrastruktur dan peralatan, tetapi juga menghadirkan manufaktur peralatan tersebut ke dalam negeri," tegas Sigit.
Salah satu target yang paling banyak diperbincangkan adalah pembangunan pusat data berkapasitas besar — dalam pemberitaan digambarkan menyentuh skala 1 gigawatt (GW) — sebagai tulang punggung komputasi AI nasional. Kapasitas sebesar itu menempatkan proyek ini pada kelas fasilitas yang biasanya hanya dimiliki perusahaan teknologi global.
Enam Sektor Semikonduktor dan Kemitraan dengan Arm
Untuk menopang ekosistem pusat data secara mandiri, Danantara membidik industri semikonduktor di dalam negeri. Sigit menyebut ada enam sektor semikonduktor yang tengah dikembangkan, salah satunya mencakup pengontrol (controllers) serta chip khusus untuk pusat data.
Langkah ini diperkuat kemitraan strategis dengan raksasa desain chip global, Arm Ltd, yang telah diumumkan sejak Mei 2026. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan bahwa kerja sama itu dibangun di atas tiga pilar: akses terhadap kekayaan intelektual (intellectual property) di berbagai domain teknologi strategis, pengembangan talenta, serta proyek khusus yang direncanakan menjadi tonggak industri teknologi nasional pada 2028/2029.
Pada pilar talenta, Danantara dan Arm menargetkan pelatihan 15.000 insinyur Indonesia dalam ekosistem Arm. Pendekatannya adalah fabless design — merancang chip di dalam negeri, lalu memproduksinya melalui fasilitas fabrikasi global. Dengan cara itu, Indonesia disebut tidak hanya membangun kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat kepemilikan dan inovasi teknologinya.
Robot Industri dan Alat Berat Listrik
Di luar chip dan pusat data, Danantara menyiapkan lini proyek masa depan pada klaster "Others". Cakupannya meliputi perangkat komputasi, alat berat listrik (electric heavy machinery), sensor dan instrumen optik, hingga robot industri.
Daftar itu menunjukkan arah yang lebih luas: teknologi tidak berhenti di perangkat lunak atau layanan digital, tetapi menyentuh peralatan fisik yang selama ini hampir seluruhnya diimpor. Alat berat listrik, misalnya, bersinggungan langsung dengan sektor pertambangan dan konstruksi yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Apa Artinya bagi Indonesia
Ada tiga hal yang layak dicermati dari pengumuman ini.
Pertama, soal kedaulatan teknologi. Selama ini Indonesia adalah pasar besar bagi chip dan perangkat komputasi buatan luar negeri, tanpa memiliki peran di rantai produksinya. Program fabless design adalah upaya masuk ke rantai itu dari sisi desain — bagian dengan margin dan nilai tambah lebih tinggi dibanding sekadar perakitan.
Kedua, soal lapangan kerja. Target pelatihan 15.000 insinyur dalam ekosistem Arm adalah janji konkret yang bisa diukur. Jika terealisasi, ini bisa menjadi salah satu program pengembangan talenta teknologi terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.
Ketiga, soal eksekusi. Peta jalan 40+ proyek di enam klaster adalah rencana jangka panjang, dan seperti semua rencana besar, ujiannya ada di tahap pelaksanaan: pembiayaan, kemitraan teknologi, serta kesiapan sumber daya manusia.
Penutup
Pengumuman Danantara menunjukkan ambisi yang jelas: dari negara pengguna teknologi menjadi negara yang merancang dan memproduksi teknologinya sendiri. Titik kritisnya bukan pada jumlah proyek yang diumumkan, melainkan pada seberapa banyak yang benar-benar berjalan hingga produksi. Karena itu, publik perlu terus mengikuti perkembangan enam klaster industri ini — terutama realisasi pelatihan 15.000 insinyur dan status proyek chip yang ditargetkan menjadi tonggak pada 2028/2029.
